Jumat, 30 Maret 2012
Kisah yang Tak Terliput dari Hidayat Nur Wahid
Siang yang terik tak mengurangi antusiasme warga Pleret Bantul berkumpul di lapangan Pleret. Duka akibat gonjangan gempa dua pekan lalu yang menewaskan ribuan orang juga belum hilang. Apa yang membuat mereka begitu antusias mendatangi lapangan?
Hari ini, ada tamu istimewa yang hadir ke desa mereka di Pleret Bantul. Tamu itu adalah Hidayat Nur Wahid, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pak Dayat, begitu beliau dipanggil akan berkunjung ke desa yang terkena dampak gempa sangat parah di Jogya sekaligus peletakan batu pertama pembangunan rumah bantuan dari donatur. Masyarakat begitu merindukan kehadiran pejabat negara yang memang juga berasal dari daerah yang dekat dengan lokasi mereka. Menurut berita, Pak Dayat keluarga Pak Dayat di Klaten juga terkena musibah gempa.
Siang makin terik, masyarakat tak juga melihat ada tanda-tanda seorang pejabat negara datang. Tiba-tiba saja, bunyi mikrophone dari tengah lapangan berbunyi.
“Yang Terhormat, Ketua MPR, Bapak Hidayat Nur Wahid selamat datang di desa kami.”
Suara pembawa acara sudah bergema sampai terdengat sekitar 25 m dari tempat acara yang berada di tengah lapangan.
“Loh, sudah datang, toh. Kapan datangnya?”
“Sudah lima belas menit lalu, Pak” saya menimpali pertanyaan seorang bapak tua yang dari tadi menunggu kedatangan Ketua MPR itu.
“Loh, biasanya ada sirine dan banyak polisi toh. Lah, ini seperti tidak ada apa-apa.”
Bapak tua itu heran karena biasanya selalu ada kehebohan kendaraan pengawal dan rombongan pejabat lainnya yang mengiringi. Ternyata Pak Dayat menaiki mobil biasa tanpa pengawalan. Bahkan Camat Pleret sampai tergopoh-gopoh mengejar Pak Dayat karena keduluan ketua MPR datangnya.
Acara diadakan di tengah lapangan. Para pejabat disediakan kursi empuk sementara warga hanya duduk lesehan beralaskan tikar. Ketika giliran Pak Dayat member sambutan, beliau kemudian turun dari kursinya dan duduk lesehan.
“Maaf bapak Ibu, bukannya saya tidak menghargai, supaya kita lebih dekat. Saya duduk nggih.” Begitulah perkataan yang saya tangkap dari obrolan beliau dengan warga dalam bahasa jawa yang sangat halus. Akhirnya pejabat dan tokoh masyarakat yang mendampingi Pak Dayat ikut lesehan. Jadilah kursi empuk yang disediakan panitia jadi kosong melompong.
Saya kagum dengan sikap sederhana beliau. Datang tidak mau merepotkan dan ketika diberi fasilitas beliau memilih fasilitas yang sama dengan warga.
Setelah acara peletakan batu pertama pembangunan rumah bantuan untuk korban gempa yang difasilitasi oleh Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Pak Dayat dikerumuni oleh warga untuk bersalaman. Beliau menyambut uluran tangan warga dengan senyum sambil menyempatkan berbincang walau sejenak.
“Assalamu’alaikum, Pak Dayat.” Saya memberanikan diri menyapa beliau.
“Wa’alaikum salam. Apa Kabar Mas. Terima kasih ya sudah bantu.”
Terkesiap saya menerima uluran tangan dan kata-kata yang indah ini. Kata-kata beliau memberi energi baru bagi saya untuk menjalani tugas kemanusiaan sebagai relawan di Jogja saat itu, Juni 2006. Keletihan saya selama sepekan mendadak sirna oleh sapaan hangat dan rendah hati dari seorang pejabat tinggi negara.
Saya menjadi saksi atas pengakuan banyak orang tentang kesederhanaan dan kerendahan hati Dr. Hidayat Nur Wahid yang saat ini mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur Jakarta. Warga Jakarta kini memiliki banyak pilihan untuk mengangkat pemimpin daerahnya dan Hidayat Nur Wahid memberikan pilihan bagi warga yang ingin pemimpin berkarakter sederhana, rendah hati serta dekat dengan rakyat.
Pilkada yang Menggerakkan
“He tangi, tangi…. iku bosmu sido ndaftar Gubernur Jakarta !”
Suara melalui handphone itu demikian keras di telinga Yunus, seorang kader di Palu, Sulawesi Tengah. Jam 24.00 WITA, Yunus yang sudah tidur menjadi terbangun karena telpon genggamnya berdering. Rupanya saudaranya dari Banyuwangi menelpon dengan luapan kegembiraan, karena tengah menyaksikan berita di televisi proses pendaftaran Hidayat Nurwahid ke KPUD DKI Jakarta untuk calon Gubernur, berpasangan dengan Didik J. Rachbini.
“Alhamdulillah, sampeyan ngerti seko ngendi ?” tanya Yunus.
“Mulo ndang tangiyo, aku yo isih nonton tivi, lagi ono beritane bosmu iku…”, jawab saudaranya di Banyuwangi. Yang disebut dengan “bosmu” adalah Hidayat Nurwahid.
Keluarga Yunus yang berada di Banyuwangi merasa demikian bersyukur, karena tokoh yang sangat mereka kagumi, Hidayat Nurwahid, mendaftar menjadi calon Gubernur DKI. Sedemikian gembiranya, mereka tidak sabar berbagi, langsung menelpon Yunus yang telah istirahat di Palu. Yunus mereka kenal sebagai aktivis PKS, sementara keluarga yang di Banyuwangi merupakan warga masyarakat biasa, bukan kader.
Semua Bersyukur
Keluarga Yunus hanyalah salah satu kisah dari sangat banyak kisah serupa. Saya mendengar banyak kader di wilayah DKI melakukan sujud syukur setelah pasangan HNW – Didik resmi mendaftar di KPUD. Mereka sangat bersyukur karena tokoh yang kharismatik ini bisa maju sebagai calon Gubernur DKI. “Kami semua sangat terharu, dan bersyukur beliau berhasil menjadi calon Gubernur. Kami semua siap bekerja memenangkan beliau”, ungkap seorang kader senior di DKI.
Jika banyak kader di DKI melakukan sujud syukur, tentu wajar, karena perhelatannya memang terjadi di wilayah DKI. Namun ternyata yang merasakan kegembiraan bukan hanya kader DKI, bahkan kader di luar DKI yang tidak akan bisa ikut memilih saat Pilkada DKI. Juga bukan hanya kader, termasuk simpatisan dan masyarakat umum ikut merasakan kegembiraan. Contohnya adalah keluarga Yunus di Banyuwangi. Demikian jauh dari Jakarta, dan tidak akan bisa ikut memilih saat Pilkada DKI karena tidak tinggal di Jakarta, namun kegembiraannya demikian membuncah.
Yunus pun segera membangunkan isterinya, dan mereka berdua dengan antusias menyaksikan berita televisi tentang pendaftaran pasangan HNW – Didik di KPUD DKI. Mereka merasa sangat berbahagia, dan ikut merasakan semangat yang membara ingin terlibat memperjuangkan kemenangannya. Yunus tinggal di Sulawesi Tengah, namun ia tergerak untuk memberikan dukungan dalam bentuk apapun yang bisa dilakukannya.
“Saya akan mengontak teman dan kerabat saya yang tinggal di wilayah Jakarta, agar memilih pasangan HNW – Didik”, ungkap Yunus.
Demikian pula Zuhrif, kader yang tinggal di wilayah Kota Yogyakarta. “Saya sudah mengontak 22 keluarga saya yang tinggal di Jakarta, agar kelak memilih HNW – Didik dalam Pilkada”, katanya penuh semangat. Bahkan, ia menyempatkan diri hadir ke Jakarta agar bisa menyaksikan proses pendaftaran HNW – Didik ke KPUD DKI secara langsung. Jauh-jauh ia menempuh perjalanan agar tidak ketinggalan peristiwa yang monumental tersebut.
Falah, seorang kader dari Sleman DIY tidak mau ketinggalan. Dia mengirim pesan lewat grup BBM, “DPW PKS DIY harus segera membuat instruksi agar seluruh kader DIY mensukseskan Pilkada DKI, dengan jalan dukungan doa, tenaga, dan mengontak teman serta kerabat yang tinggal di wilayah Jakarta untuk memenangkan HNW”.
Luar biasa, bahkan SMS dari banyak kader di berbagai daerah, menunjukkan suasana semangat yang sangat membara. Berikut contoh kiriman SMS yang masuk ke handphone saya, dari berbagai daerah di Indonesia:
“Allahu Akbar ! Inilah saatnya memimpin Jakarta”.
“HNW memimpin Indonesia, melalui DKI Jakarta”.
“Allah beserta kita”.
“Kita bangkit bersama, menangkan HNW di DKI Jakarta”.
“Menuju RI – 1, melalui DKI – 1”.
Masih banyak contoh SMS lainnya yang sedemikian semangat menyambut pendaftaran HNW menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Semua bersyukur atas pencalonan HNW, dan ingin terlibat memenangkannya.
Pilkada yang Menggerakkan
Fenomena semangat yang menggelora sangat terasa. Semua kader ingin segera bekerja, seakan Pilkada tinggal besok pagi saja. Semua merasa tidak sabar untuk segera memenangkannya. Pilkada DKI telah menggerakkan semangat, motivasi, dan kebersamaan kader di seluruh Indonesia. Bukan hanya DKI Jakarta dan sekitarnya, namun merata sampai seluruh wilayah dan daerah.
Benar-benar Pilkada yang menggerakkan. Seakan ada sesuatu yang turun dari langit, dan menyentak perhatian kader. Kita harus segera bekerja, dan kita sudah siap untuk bergerak lebih keras dari sebelumnya. Seorang kader secara bergurau mengirim SMS kepada saya, “Berterimakasihlah kepada Foke, karena dia tidak jadi berpasangan dengan kita, sehingga kita justru bisa maju sendiri. Ini akan membuat kita solid.”
Fenomena tergerakkannya kader ini sedemikian merata. Bukan hanya di DKI Jakarta. Bahkan semua struktur wilayah menyatakan siap membuat Posko Pemenangan di Jakarta. Sebagaimana diketahui, Jakarta dihuni oleh masyarakat dari berbagai etnis dan susku bangsa. Maka semua wilayah menyatakan siap membuat Posko Pemenangan dalam rangka mengajak warga asal wilayah masing-masing untuk memilih HNW dalam Pilkada Jakarta.
Tidak perlu instruksi, tidak perlu taklimat. Semangat sudah merata. Seorang kader senior di Yogyakarta menangis, karena hanya bisa membaca berita melalui milis dan SMS tentang persiapan pemenangan Pilkada DKI Jakarta, dan ia merasa tidak bisa membantu apa-apa kecuali doa. Lihatlah, bahkan kader yang tidak tinggal di Jakarta saja merasa berdosa karena tidak bisa memberikan bantuan tenaga. Pilakada Jakarta benar-benar menggerakkan kader dan struktur semuanya.
Banyak kader yang tinggal di luar Jakarta bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan selain doa?” Masyaallah, pertanyaan yang menandakan kecintaan. Pertanyaan yang menunjukkan telah tergerakkan. “Kami tidak bisa hanya diam saja dan menonton berita. Kami harus ke sana”, ungkap seorang kader di kecamatan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta dengan penuh semangat menggelora. “Kami akan menangis kalau hanya melihat berita”, katanya.
Subhanallah, walhamdulillah. Belum pernah saya menyaksikan Pilkada yang sangat heroik seperti di DKI Jakarta. Baru berita pendaftaran di KPUD saja, sudah menggerakkan semangat yang membara. Ikatan emosi yang demikian kuat tercurahkan, dan semua ingin bekerja memenangkan Pilkada Jakarta.
Seorang kader di wilayah Jawa Tengah dengan semangat menggelora mengatakan telah membuat tim kecil yang akan dikirim ke Jakarta, melakukan “operasi” ke masyarakat Jawa Tengah yang tinggal di Jakarta. “Operasi ini kami biayai sendiri. Ini bentuk kontribusi kami bagi kemenangan dakwah di DKI”, kata kader tersebut. Sayapun dibuat menangis oleh pernyataan ini.
Subhanallah walhamdulillah. Tadi sore melihat gambar HNW sedang rapat menyusun langkah kemenangan bersama tim, melalui grup BBM. Sayapun kembali menitikkan air mata. Gambar-gambar semacam itu telah memberikan banyak cerita. Gambar dan berita Pilkada Jakarta telah menggerakkan hati kita, nurani kita, semangat kita, kecintaan kita, kebersamaan kita, kesungguhan kita, perjuangan kita.
Subhanallah walhamdulillah. Semoga Allah berikan kemenangan dan kebaikan dalam perjuangan dakwah di DKI Jakarta.**
Minggu, 03 Juli 2011
Inilah Daftar Alat yang Buku Panduannya Wajib Berbahasa Indonesia
detik.com , Minggu, 03/07/2011 00:02 WIB
Jakarta - Diseretnya Dian dan Rendy ke tahanan karena menjual 2 iPad yang menggunakan buku manual berbahasa Inggris menuai kontroversi. Polisi dan jaksa berdalih keduanya melanggar UU Perlindungan Konsumen. Padahal pasal tersebut masih harus diatur lebih lanjut oleh peraturan yang dibuat oleh menteri.
Lantas Menteri Perdagangan mengeluarkan surat edaran untuk memperjelas maksud pasal UU Perlindungan Konsumen ini. Dalam Surat Edaran Menteri Perdagangan, iPad tidak masuk dalam 45 jenis barang yang diatur. Jika 45 jenis barang tersebut tidak menggunakan manual book berbahasa Indonesia, maka siap- siap saja penjual akan menghadapi ancaman penjara 2 tahun.
Berikut daftar 45 jenis barang yang tertuang dalam SE Mendag Nomor : 19/m-dag/per/5/2009, tanggal : 26 mei 2009 seperti di dapat detikcom dari situs resmi Kementrian Perdagangan, Minggu, (3/7/2011).
1. Alat perekam atau reproduksi gambar dan suara (vcd, dvd, dan vcr player)
2. Amplifier
3. Amplitheather rumahan (home theater amplifier)
4. Cakram optik isi
5. Cakram optik kosong
6. Dispenser (water dispenser)
7. Faksimili (facsimile)
8. Frizer rumahan (home freezer)
9. Kalkulator
10. Kamera:
- kamera digital (digital camera);
- kamera video (video camera).
11. Kamera perekam (camcorder)
12. Kipas angin:
- kipas angin berdiri;
- kipas angin kotak;
- kipas angin dinding;
- kipas angin gantung;
- kipas angin hisap;
- kipas angin meja.
13. Lemari es (refrigerator)
14. Mesin cuci (washing machine)
15. Mesin pengatur suhu udara (ac)
16. Mikropon (microphone)
17. Monitor komputer
18. Organ/keyboard elektrik
19. Mesin pelumat (blender)
20. Pemanas air (water heater)
21. Pemanas nasi
- penanak nasi (rice cooker)
- penanak nasi serba guna (magic com)
22. Mesin pemanggang (toaster)
23. Pencampur (mixer)
24. Mesin pencetak (printer)
25. Mesin fotokopi (photo copy)
26. Mesin multi fungsi
27. Pengejus (juicer)
28. Pengeras suara:
- active speaker;
- ceiling speaker;
- colum speaker;
- horn speaker;
- mobile speaker;
- multimedia speaker;
- passive box speaker;
- professional box speaker;
- public address speaker.
29. Pengering (dryer)
30. Pengering rambut (hair dryer)
31. Penghisap debu (vacuum cleaner)
32. Pesawat televisi:
- pesawat televisi warna;
- pesawat televisi lcd;
- pesawat televisi plasma;
- pesawat televisi proyeksi;
- televisi mobil.
33. Piano elektrik:
- piano tegak elektrik;
- piano besar elektrik.
34. Pompa air listrik untuk rumah tangga (water pump)
35. Radio cassette/mini compo
36. Tape mobil
37. Set top box
38. Setrika listrik
39. Telepon nirkabel
40. Telepon selular (cellular telephone)
41. Tudung hisap/sungkup hisap (cooker hood)
42. Tungku/oven untuk rumah tangga
43. Tungku gelombang mikro (microwave oven)
44. Tungku pemanggang (oven toaster)
45. Kompor gas
Senin, 22 Maret 2010
jasa modifikasi mesin
Bagi teman teman yang aktif di Industri, apabila membutuhkan jasa layanan:
1. Desain dan Pembuatan Sistem Kontrol Baru pada mesin anda
2. Maintaining dan Modifikasi Sistem Kontrol pada mesin yang sudah ada
3. pembuatan control panel
untuk membuat SISTIM AUTOMATISASI/KONTROL BARU atau MEMODIFIKASI SISTIM YANG SUDAH ADA,
silahkan buka info menarik di : http://www.kuhlindo.com/
Selasa, 23 Februari 2010
Kreatifitas dari tusuk gigi
Lihatlah sebagian kreasinya:
Jumat, 19 Februari 2010
Belajar dari Semangat Juang Para Insinyur Jerman
Dengan anggota sebanyak 128.000 orang mereka telah menjadi sebuah perkumpulan insinyur yang sangat berpengaruh dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Eropa. Mereka menjadi partner utama pemerintah Jerman dalam pengembangan IPTEK mulai dari A sampai Z.
Sejarah Perjalanan
Pada tanggal 23 Mei 1856 berkumpul 23 insinyur muda Jerman di Alexisbad im Ostharz dengan tujuan ingin menyatukan potensi ilmu mereka, khususnya bidang teknik, di Jerman. Dan dalam waktu singkat berhasil dibuka cabang VDI di beberapa kota, guna mendorong pertumbuhan IPTEK di seluruh pelosok negara Jerman.
Kehadiran VDI sangat membantu perkembangan IPTEK pada masa itu di Jerman. Di antaranya, ketika banyak terjadi kecelakaan akibat Steam Boiler yang meledak, VDI mendirikan Dampfkesselüberwachungsverein (Pusat Pengawas Industri Steam Boiler), yang merupakan cikal bakal berdirinya Technischer Überwachungs Verein (TÜV), semacam Pusat Uji Keamanan Produk Teknik.
Setelah itu, pada tahun 1867 seorang insinyur muda Werner von Siemens berhasil menemukan Dinamo sebagai penghasil aliran listrik. Siemens adalah salah satu penggerak VDI pada awal berdirinya. Beberapa ilmuwan lain yang ikut andil antara lain Ferdinand Graf von Zeppelin -penemu alat transport udara berbentuk balon udara, Robert Bosch, insinyur wanita jerman pertama Ilse Knott-ter Meer.
Sesuai perkembangan jaman dan teknologi, VDI senantiasa mampu menjadi partner dalam pengembangan IPTEK hingga aplikasi di Industri. Selain itu VDI juga memberikan service dalam hal Management dan Karir. VDI juga aktif memberikan sarana bagi pelajar Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah untuk mengenal lebih jauh tentang dunia teknik serta memberi kesempatan kepada para pelajar untuk melakukan berbagai penelitian.
Terhadap berbagai permasalahan dalam negeri Jerman, VDI juga aktif menawarkan berbagai solusi dan aktifitas pendukung lainnya. Seperti menurunnya minat generasi muda Jerman terhadap High-Tech, larinya pusat produksi dari Jerman hingga masalah hijrahnya para peneliti berbakat Jerman ke USA. Khususnya masalah banyaknya perusahaan yang tutup dan pindah ke luar Jerman, sempat menjadi semacam bencana nasional. Dan masalah PHK besar-besaran ini diperparah dengan semakin naiknya harga kebutuhan pokok.
Bisa diteladani
Namun, bukan orang Jerman kalau semua permasalahan tersebut membuat mereka putus asa untuk berbuat. Ibarat tim sepak bola Jerman, mereka akan bertempur habis-habisan hingga akhir pertandingan. Mental pejuang yang patut dicontoh oleh rakyat Indonesia, untuk kembali bangkit dari segala kesulitan yang sedang menimpa bangsa Indonesia.
Melalui sebuah kampanye „Sachen Machen“ (Berbuat Sesuatu), VDI mencoba menyuburkan kembali ruh „Made in Germany“ dengan mempertahankan imej Jerman sebagai pusat inovasi dan teknologi serta mengembangkan SDM Jerman. Dengan kampanye „Sachen Machen“ ini VDI ingin mengajak segenap komponen bangsa Jerman agar „Nicht Reden, sondern Machen“ (Tidak banyak bicara tapi banyak berbuat).
Inisiatif VDI ini didukung oleh 50 partner dari berbagai kalangan ilmuwan dan industri, dengan menyelenggarakan berbagai aktifitas. Bekerja sama dengan Deutsche Messe AG, VDI mengadakan acara „Tag der Entdecker“ (Hari Para Penemu) guna menumbuhkan jiwa inovasi generasi muda serta perusahaan menengah yang inovatif. Agar generasi muda lebih akrab dengan dunia teknologi di selenggarakan „Tag der Technik“ (Hari Teknologi), dimana setiap orang berkesempatan melihat langsung dan bertanya seputar produk-produk IPTEK serta melakukan eksperimen sendiri. Berbagai perlombaan juga menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menyalurkan bakat dan potensi mereka, seperti lomba merancang mobil balap formula 1 di Sirkuit Balap Hockenheim. Dalam usaha mempertahankan imej Jerman sebagai pusat Inovasi, VDI mengadakan berbagai dialog melalui „Business Talk“ di Hannover Messe.
Masing-masing industri di Jerman juga mendukung langkah VDI ini, seperti Linde AG yang membuat pusat pengembangan SDM berbakat, „Ideen Park“ (Taman Ide) di perusahaan ThyssenKrupp, Akademi Insinyur Yunior oleh Deutsche Telekom serta Lomba RoboCup, sebuah pertandingan sepak bola untuk robot yang diselenggarakan bersamaan dengan Kejuaraan Dunia Sepak Bola 2006 di Jerman oleh perusahaan Brunel.
Menghadapi permasalahan ekonomi dalam negeri Jerman saat ini, kalangan Show Business juga tidak mau ketinggalan dengan kolega mereka dari Industri. Para Bintang Film Televisi mengadakan kampanye „Du bist Deutschland“ (Kamu Negara Jerman), guna membantu membangkitkan semangat penduduk Jerman menghadapi masa-masa sulit.
Dengan mental khas Jerman seperti bekerja keras, pantang mundur dan disiplin ini, bangsa Jerman hendak bangkit kembali menjadi bangsa pusat Inovasi dan High-Tech serta juara dunia dibidang ekspor High-Tech.
Semoga bangsa Indonesia mampu mencontoh sifat-sifat positip dari Jerman ini, agar bisa segera keluar dari kesulitan dan menjadi Tiger (macan) Asia yang baru. (nugroho)
http://www.aipse.org/articles/1-belajar-dari-semangat-juang-para-insinyur-jerman-.html
Globalisasi Perdagangan China-ASEAN: Peluang atau Mimpi Buruk?
Melihat pertumbuhan ekonomi dan perdagangan negara China, banyak pakar mengatakan sebagai hal yang fenomenal. Angka pertumbuhan China memang lebih cepat daripada yang diperkirakan oleh banyak kalangan. Menurut Majalah FOCUS, pada bulan Desember 2005 pemerintah China mampu mengangkat lagi GIP nya sebesar 285 Milyar Dollar, sehingga ekomoni China menempati peringkat ke 6 sedunia. Bila digabung dengan Hongkong, maka akan mampu menyamai USA, Jepang dan Jerman.
Menurut Hong Liang dari Goldman Sachs, sejak 27 tahun terakhir perekonomian China mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 9,4%. Sedangkan GIP per kepala mengalami kenaikan sebesar 600%, yang merupakan kejadian pertama kali dalam sejarah dunia. Dengan sistem perekonomian yang export-oriented, China mampu menaikan nilai export dari 267 Milyar Dollar (2001) menjadi 762 Milyar Dollar (2005).
Revolusi Industri Jerman
Tuntutan untuk dekat dengan market, menjadi alasan bagi banyak perusahaan Jerman dan Eropa untuk berbondong-bondong membuka pabrik dan bekerja sama dengan China. Selain itu tekanan biaya produksi yang tinggi di Jerman, memperkuat keinginan mereka untuk memindahkan pusat produksi ke negara lain dengan upah yang lebih rendah.
Ekonomi China yang sangat beorientasi pada ekspor menjadi tantangan berat bagi negara-negara industri. Tekanan persaingan dari China yang naik dengan pesat tidak hanya di sektor tekstil, namun juga telah merambah industri elektronik, telekomunikasi bahkan otomotif dan transport.
Sebagian Manager bahkan mennyatakan “China is very dangerous” dan menuntut pemerintah Jerman agar segera mengambil kebijakan yang tepat untuk menyelamatkan ekonomi dalam negerinya. Namun reformasi politik Jerman dirasakan oleh beberapa kalangan berjalan sangat lambat. Sehingga gelombang penutupan pabrik-pabrik di Jerman selama beberapa tahun terakhir seperti tidak bisa dihindari. Demonstrasi serikat pekerja menentang penutupan pabrik dan PHK seakan menjadi santapan sehari-hari di koran dan televisi Jerman. Setiap pekerja di Jerman merasa tidak yakin lagi akan masa depan pekerjaannya. Menurut hasil penelitian Forsa Institut di Berlin, setiap 5 pekerja merasa Stress karena takut terkena PHK.
Sebagian perusahaan Jerman memindahkan produksinya ke negara eropa timur, sebagian lagi ke negeri China atau India. Tetapi tidak semua perusahaan tersebut memiliki pertimbangan dan analisa yang cukup terhadap risiko di negara lain yang akan dihadapi. Yang sering menjadi pertimbangan utama adalah upah pekerja di Jerman yang relatif sangat tinggi, sehingga produknya yang mahal tidak mampu bersaing dengan produk China. Beberapa kalangan bahkan menganggap, ”Made in Germany” tidak mampu bersaing lagi, Jerman bukan lagi Pusat Teknologi dan Inovasi serta pernyataan senada lainnya.
China: Tambang Emas atau Mimpi Buruk?
Pertumbuhan ekonomi dan perdagangan China ternyata tidak selalu membawa keuntungan bagi semua pihak, seperti yang dibayangkan. Mulai dari perusahaan menengah hingga perusahaan papan atas Jerman, memetik pengalaman yang luar biasa dari hubungan perdagangan dengan China. Pengalaman yang tidak selalu menyenangkan, yang terkadang harus mereka bayar dengan kerugian jutaan Dollar.
Permasalahan besar yang sering dihadapi oleh perusahaan Jerman dengan China adalah masalah hak paten atau pemalsuan produk.
Kejadian yang cukup menarik perhatian seluruh rakyat Jerman adalah masalah order pemerintah China kepada Jerman, untuk membangun jalur kereta magnet Transrapid. Transrapid, kereta ’mengambang’ dengan teknologi magnet yang dikembangkan oleh Siemens dan ThyssenKrupp ini memiliki kecepatan rata-rata 500 m/h. Di Jerman sendiri sampai saat ini baru dipakai di jalur uji coba. Sehingga pesanan dari pemerintah China ini dianggap sebagai sebuah keberuntungan oleh pemerintah Jerman.

Namun beberapa saat setelah Transrapid bikinan Jerman diresmikan di China, pemerintah China mengumumkan peluncuran kereta magnet buatan China. Satu hal yang sangat mengejutkan pihak Jerman. Banyak yang berpendapat, Jerman telah melakukan kesalahan besar dan menuduh China telah melakukan pembajakan teknologi. Namun China Aviation Industry Corporation (CAC) sebagai pihak yang memproduksi Dolphin (Transrapid made in China) membantah tuduhan tersebut.

Kejadian Transrapid bukan satu-satunya yang dialami oleh perusahaan Jerman. Dalam pameran mobil internasional IAA di Frankfurt, produsen mobil Jiangling mengundang kekesalan OPEL, karena menjiplak OPEL Frontera nya. Mercedes juga harus menelan pengalaman pahit dengan tindakan Yaxing, yang memproduksi chasis dengan teknologi dan know-how Mercedes. Jenis produk lainnya tidak luput dari bajakan perusahaan China, mulai dari pensil, mainan, pakaian, jam tangan, sepeda motor, mesin industri dan produk-produk kimia. Kerugian yang diderita akibat pembajakan ini berkisar antara 200 Milyar Euro (data Komisi Uni Eropa) dan 500 Milyar Dollar (data pemerintah Amerika).
Perusahaan-perusahaan besar mulai giat melakukan perlawanan terhadap mafia plagiator dari China ini. Dengan biaya yang tidak sedikit mereka menelusuri sumber pemalsuan produk hingga ke China dan menuntutnya di Pengadilan. Namun perusahaan kecil dan menengah tidak akan mampu melawan tindakan para plagiator ini, karena keterbatasan kemampuan.
Di setiap pameran di Jerman juga diadakan aksi razia terhadap produk China, yang diduga melakukan pelanggaran hak paten. Kampanye melawan Plagiator gencar dilakukan. Salah satunya adalah dengan memberi penghargaan kepada Plagiator dengan design terbaik, yang dilakukan oleh Ikatan Industry Designer Jerman (http://www.plagiarius.com). Penghargaan ini pertama kali diberikan kepada perusahaan Lee dari Hongkong, yang secara jitu meniru produk timbangan berat badan merek Soehnle. Setiap tahun Award ini diberikan kepada para pemalsu produk dalam kesempatan pameran di Jerman.
Tindakan tidak fair dari pengusaha-pengusaha China tersebut berhasil menempatkan negara China sebagai Plagiator terbaik di dunia. Selain itu mulai dirasakan oleh kalangan industri dan perdagangan eropa, bahwa banyak langkah-langkah perusahaan dari daratan China yang dianggap tidak fair dan melanggar perjanjian. Seperti tindakan BenQ yang tiba-tiba menutup pabrik mobile phone Siemens di Jerman, setelah sebelumnya mengambilalihnya dari Siemens. Siemens dan pengacara Jerman saat ini sedang berusaha menuntut BenQ ke pengadilan, atas tindakan yang dianggap melanggar perjanjian. Selain itu BenQ juga pernah digugat oleh Thomson, sebuah produsen LCD yang berpusat di Perancis, atas tindakan BenQ melukai hak paten milik Thomson.
Keberhasilan China dalam membangun perekonomian dan perdagangan internasional, ternyata tidak selalu membuat setiap kalangan kagum dan senang serta aman untuk bekerja sama dengannya. Bahkan cenderung ada kesan, keberhasilan diatas penderitaan orang lain. Seorang pengusaha Jerman, kenalan penulis, merasa enggan untuk melakukan kerjasama bisnis lagi dengan partner dari China, setelah beberapa kali mendapat tindakan kurang fair dari mereka.
Namun posisi China saat ini di tataran internasional memang tidak bisa dipungkiri, terlepas dari mentalitas atau kebijakan dalam negeri yang mereka laksanakan. Menurut salah seorang direksi Siemens, Heinrich von Pierer, ”Resiko menghindari perdagangan dengan China lebih besar daripada resiko ketika terlibat dengannya”.
Belajarlah Hingga Ke Negeri China
Pada awal bulan November 2006 berlangsung Pertemuan Puncak ke-3 Bisnis dan Investasi China-ASEAN di Nanning, Guangxi, China. Dalam forum tersebut, PM China Wen Jiabao mengatakan dalam sambutannya, bahwa kemajuan pesat pembangunan ekonomi China akan membuka lebih banyak peluang bagi kerja sama bilateral antara China dan negara-negara anggota ASEAN. Selain itu telah dicapai kesepakatan, bahwa China bertekad mewujudkan kawasan pasar bebas (FTA) dengan Brunei, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand paling lambat pada 2010 sedangkan dengan Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam paling lambat tahun 2015.
Tak ketinggalan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan juga hadir dalam pertemuan tersebut. Seperti ungkapan yang cukup terkenal, ”Belajarlah hingga ke negeri China”, maka rombongan tersebut juga punya tekat belajar dari China tentang berbagai hal.
Bukan hanya belajar dari keberhasilan China membangun ekonominya, namun juga belajar dari pengalaman bangsa lain tentang China, khususnya dalam hubungan dagang internasional. Tawaran kerja sama bilateral dari PM China Wen Jiabao di kawasan pasar bebas di ASEAN apakah mampu dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia sebagai peluang emas, atau justru menjadi mimpi buruk karena kita tidak siap menghadapi resiko hubungan dagang dengan China. Semoga bangsa Indonesia tidak akan menjadi bangsa konsumtif yang kalang kabut menghadapi banjir produk China, tapi juga mampu menghidupkan industri nasional sendiri, sebagai salah satu landasan kemandirian bangsa.
Belajarlah dari dan tentang bangsa China!
http://www.aipse.org/articles/20-globalisasi-perdagangan-china-asean-peluang-atau-mimpi-buruk-.html
Selasa, 14 Juli 2009
Pembunuhan berlatarbelakang kebencian terhadap Islam
http://www.taz.de/1/politik/deutschland/artikel/1/mord-mit-islamfeindlichem-hintergrund/
"Laki laki yang minggu lalu membunuh seorang wanita 31 tahun berkebangsaan mesir dengan 18 tusukan pisau di Pengadilan negara bagian,Dresden, kemungkinan memiliki motif Islamphobia. "
Berlin TAZ, Wanita mesir yang Rabu lalu terbunuh di pengadilan Dresden kemungkinan adalah korban pembunuhan pertama dari sebuah klausul kebencian terhadap Islam di Jerman. Pelaku adalah orang yang membenci orang asing dengan sangat radikal. Kita sedang menguji, apakah dia mempunyai sikap membenci islam secara spesifik“. kata Jaksa penuntut Christian Avenarius kepada TAZ.
Kasus ini dimulai pada akhir 2008 di sebuah tempat permainan, ketika mereka berselisih tentang pemakaian mainan jungkat jungkit untuk anaknya. Dalam perselisihan tersebut Alex W. 28 tahun mengumpati Marwah (31 tahun) yang berjilbab dengan sebutan „Teroris“, „pelacur murahan“ dan Islamistin (sebutan negatif). Karena kejadian itu Marwa menuntutnya di pengadilan dan karenanya warga jerman keturunan rusia yang menetap di jerman sejak th.2003 tersebut divonis denda uang. Karena dia pengangguran besarnya denda hanya 780 Euro. Masih menurut penuturan sang jaksa penuntut umum, dalam proses persidangan lelaki ini mengatakan bahwa „untuk orang seperti itu“ ucapannya bukanlah termasuk penghinaan, karena wanita ini „bukan manusia sungguhan“. Karena itu Jaksa penuntut umum mengajukan banding dengan tuntutan hukuman kurungan.
Dalam persidangan banding minggu yang lalu Marwa yang sedang hamil 3 bulan datang ke persidangan dengan suami dan anaknya yang berusia 3 tahun. Ketika dia sedang menyatakan kesaksiannya, Alex W menyerang dengan tiba tiba dengan sebuah pisau dan menusuk dalam waktu singkat sebanyak 18 kali. Marwa E meninggal seketika. Suaminya , Elwy O. mencoba untuk melindungi istrinya sehingga terluka parah. Seorang Polisi yang tergopoh gopoh masuk ruangan malah menganggap sang suami sebagai pelaku (tindakan yang sampai saat ini tidak bisa dijelaskan alasannya) dan menembak kakinya. Elwy O mengalami koma beberapa hari karena lukanya.
„Jika benar apa yang ditulis media, kejadian ini jelas sebuah kasus kebencian terhadap Islam“, Kata Peter Widmann, peneliti Islamophobie pada Pusat Penelitian Antisemit. Juga Sabine Schiffer, Direktur Institut untuk Media yang Bertanggungjawab, di Erlangen, yang juga seorang Ahli dari Konferensi Islam, menganggap perbuatan karena penghinaan yang karenanya Marwa E terbunuh, merupakan sebuah aksi kebencian terhadap Islam.
Sekjen Majelis Pusat untuk Yahudi dan Muslim, Stephan Kramer dan Aiman Mazyek, kemarin mengunjungi suami dari Marwa di Rumah Sakit. „Kami ingin menyatakan sikap yang jelas untuk melawan Islamophobie“, kata Kramer. „Banyak muslim yang mengalami ketakutan dan kita tidak boleh mengabaikan begitu saja.“ Reaksi yang muncul sampai saat ini sangat „tidak dimengerti hematnya“
Perbuatan ini kemungkinan dipicu oleh atmosfer kebencian di internet dan kecenderungan kecenderungan yang bermasalah dibawah kondisi intelektual tertentu yang mencapai ke tengah masyarakat“, kata Widman, seorang peneliti. Walaupun begitu tema „Kebencian terhadap Islam“ sampai saat ini hampir tidak pernah didiskusikan secara terbuka.
Masih kata Widman, hal ini salah satunya terletak pada sebuah „ketidaknyamanan yang semakin luas tentang Islam“ sampai ditengah masyarakat. „Untuk itu ada ketidakpastian, mana yang termasuk dalam kritik yang diperbolehkan dan dimana sebuah permusuhan diawali“, kata Widmann. Menurut pendapat Widmann sesungguhnya hal ini mudah:“ Kritik selalu diperbolehkan, jika dia ditujukan pada persona tau organisasi yang jelas, tapi tidak mengarah pada karakterkolektif yang digeneralisir.
Juga Ketua dari komite dalam di parlemen, Sebastian Edathy (SPD) mengamati bahwa fenomena kebencian terhadap Islam di tahun tahun terakhir „semakin meluas“.
KAMI TURUT BERDUKA CITA ATAS MARWA
edisi bahasa jermannya ada di:
http://www.gruene.de/einzelansicht/artikel/wir-trauen-um-marwa-s.html
------------------------------
PM 156/09, 10.07.2009- Untuk acara duka cita atas korban berkebangsaan mesir, Marwa S. di Dresden, Claudia Roth dan Cem Özdemir sebagai Pimpinan Nasional Bundnis 90/Die Grünen menyatakan:
10.07.09
„ Kami berbela sungkawa untuk Marwa S.,yang terbunuh dengan cara yang kejam. Pembunuhan berlandaskan rasis dan islamophobie sangat mengejutkan jiwa kami. Kami memberikan rasa empatie yang sangat mendalam untuk semua kerabat Marwa S. Dia meninggalkan seorang suami yang mengalami sendiri kejadian pembunuhan tersebut dan mengalami luka yang membahayakan jiwanya, dan juga seorang anak laki laki yang berumur 3 tahun. Ibu muda yang menjadi korban ini sedang hamil 3 bulan.
Tidak ada jawaban yang mudah dan kata kata yang mewakili untuk perbuatan pembunuhan seperti ini. Kita juga tidak boleh mentoleransi iklim masyarakat yang membiarkan bahkan menuntut untuk berdiam diri terhadap sikap kebencian terhadap kelompok tertentu sampai pembunuhan. Karena itu, saat ini dituntut adanya sikap yang jelas dan tindakan yang meyakinkan, terutama dari Menteri Dalam Negeri Jerman sebagai inisiator dari Konferensi Islam Jerman, dari Pemerintah negara negara bagian dan dari Masyarakat Sipil, yang mengecam dengan tegas pembunuhan di Dresden dan menekankan kebersamaan hidup antar umat beragama dengan penuh respek dan saling menghormati.
Sejak 11 September 2001 sikap saling menghormati dan toleransi di Jerman terhadap kaum muslimin sudah tercederai. Padahal Hukum Dasar kita sudah sangat jelas, tanpa bisa diinterpretasikan lain, menyatakan:“ Martabat/Kemuliaan/Kebebasan manusia tidak bisa disentuh“. Juga tindakan tindakan negara seperti Rasterfahndungen (Screening untuk pencarian teroris), Pelarangan Jilbab, rencana akan diberlakukannya tes pemikiran/ideologi dan hasutan masyarakat untuk menentang pembangunan masjid di beberapa kota telah merendahkan keseluruhan bagian dari warga negara secara terang terangan, memarginalkan mereka dan meletakkan mereka secara umum dalam posisi terdakwa






